Menyemai Ide Damai Melalui Deradikalisasi

Home / Kopi TIMES / Menyemai Ide Damai Melalui Deradikalisasi
Menyemai Ide Damai Melalui Deradikalisasi ASIP IRAMA, Ketua Himpunan Aktivis Milenial Indonesia; Alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Jakarta. (Foto: Istimewa)

TIMESSIDOARJO, JAKARTALEDAKAN bom bunuh diri menggetarkan Kartasura, Sukoharjo, beberapa saat lalu. Psikologi publik tampak dibuat riuh. Bayangkan, jelang beberapa hari Idul Fitri, ketakutan nostalgik tentang teror menggema tiba-tiba. Insiden di dekat Pospam Pores Sukoharjo itu, dasadari atau tidak, memantik pengalaman historis tentang teror dan Solo.

Beberapa tahun terakhir, aksi terorisme di wilayah Solo galib terlihat. Bahkan, rangkaian aksi terorisme di Indonesia selalu berjalin-kelindan dengan kelompok teroris Solo. Ada latar belakang historis, aktor, dan lingkungan yang mendasarinya. Sehingga, selain di Poso, Solo menjadi ladang hotspot kalangan jihadis-teroris.

Sejarah mencatat, jaringan teroris Solo terbentuk karena 'susupan' kombatan Darul Islam Jawa Barat. Mereka menjalin komunikasi dengan tokoh lokal Darul Islam Solo, yakni Abu Bakar Baasyir dan Abdullah Sungkar. Ba'asyir sendiri adalah pendiri Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, yang dijadikan sebagai tempat persembunyian anggota Darul Islam sekaligus lokus menyemai bibit-bibit radikalis.

Pasca pulang dari pelariannya di Malaysia, Abu Bakar Basyir keluar dari Darul Islam dan berhasil mendirikan Jamaah Islamiyah (JI) di Solo: sebuah organisasi teroris terbesar di Asia Tenggara. Kelompok inilah yang diduga bertanggungjawab atas Bom Bali 1 2002, Bom Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan Bom JW Marriott. Secara global, Jamaah Islamiyah saling bersinergi dengan oraganisasi teoris Al-Qaedah yang dipimpin oleh Usamah bin Laden.

Seiring dengan kian lemahnya posisi Al-Qaedah, arah terorisme global mengalami perubahan signifikan. Tepat pada titimangsa itulah, ISIS (Islamic State Iraq and Syiriah) menunjukkan justrungnya dengan mengubah pola, jaringan, dan kekuatan terorisme global.

Sementara itu, kekuatan Jamaah Islamiah (JI) juga terus memudar. Faktor penyababnya ialah perpecahan internal dan kian gencarnya upaya preventif Densus 88 menggulung jaringan ini. Meski begitu, di sisi lain, kelompok-kelompok teroris sempalan JI di Solo masih tetap tumbuh, di antaranya Kelompok Farhan (Abu Musab Al Zarqawi Al Indonesiy), Kelompok Thariq (Al Qaedah Al Indonesiy), dan Kelompok Abu Hanifah (Halaqah Sunni untuk Masyarakat Indonesia).

Bahkan, berbagai aksi teror di Indonesia yang belakangan terjadi diduga kuat mempunyai hubungan dengan jaringan teroris Solo yang berafiliasi dengan ISIS. Bom Thamrin 2016, Bom Mapolresta Surakarta, Bom Panci Bekasi, dan sejumlah praktik radikalis lain. Rangkaian aksi barbar tersebut mengindikakan  ada perubahan pola serangan yang dilakukan oleh para teroris. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ISIS.

Dalam perkembangan mutakhir, aksi teror mengalami perubahan. Tahun 2001-2011, JI melakukan aksi teror pada far enemy, yakni musuh-musuh jauh sesuai seruan jihad global Osamah bin Laden. Target mereka adalah Amerika Serikat dan negara Barat. Bentuk pengejawantahannya ialah kedutaan, gereja, dan tempat yang merepresentasikan simbol Barat, seperti Bom Bali 2, Kedutaan Australia, dan JW Marriott.

Namun begitu, selama masa transisi antara dua hingga tiga tahun, pola aksi teror mengalami gerak perubahan. Sebab, pada saat ini aksi teror dilakukan oleh kelompok-kelompok kecil yang berafiliasi dengan ISIS. Sasaran mereka adalah near enemy, yakni musuh-musuh dekat sesuai jangkauan kekuatan mereka. target benderang mereka adalah polisi!

Polisi menjadi target karena ada misi balas dendam dan menjadi piranti negara thaghut. Alhasil, polisi bagi mereka wajib dimusuhi karena telah banyak membunuh ikhawan-ikhawan jihadis. Kendati demikian, bukan berarti target satu-satunya hanyalah polisi. Ada juga terget lain, seperti gereja. Bagi kelompok mereka, musuh paling utama ialah sasaran yang bisa dijangkau.

Melihat perubahan pola sasaran serangan tersebut, kita dapat menarik benang merah bahwa aksi teror  terhadap polisi di Kartasura, beberapa waktu lalu, sesuai dengan desain yang telah disiapkan oleh kelompok-kelompok teroris yang berafiliasi dengan ISIS. Meski serangan tersebut tergolong lone wolf, tetapi pada hakikatnya sang pelaku telah mengafirmasi doktrin ekstrimisme yang disebarkan oleh ISIS.

Memanfaatkan Situasi

Indikator keberhasilan teroris melakukan aksinya ialah kian masifnya katakutan yang menghantui psikologi masyarakat. Sederhananya, semakin takut masyarakat terhadap teror, maka semakin berhasil juga aksi barbar tersebut. Ketika suasana menjadi keruh dan tidak ada rasa damai, kelompok teroris akan semakin percaya diri sehingga mampu menguatkan pola gerakannya.

Sejumlah faktor penyebab terorisme di suatu negara semakin kuat, di antaranya, ialah lemahnya supremasi hukum, maraknya korupsi, dan menguatnya politik identitas. Dalam kasus di Kartasura, kita bisa membaca bahwa kelompok teroris memanfaatkan konstelasi politik Indonesia yang masih mengalami polarisasi tajam, terutama pasca Pilpres 2019.

Kedekatan salah satu capres dengan kelompok islamis dimanfaatkan oleh para teroris untuk menungganginya. Meski secara politis bom di Kartasura Sukoharjo tidak ada kaitannya dengan oposisi. Tetapi, di sisi lain, hal itu adalah bentuk propaganda untuk menyulut api perpecahan antara kedua belah pihak yang selama ini bertikai. Orientasi teroris tentu supaya dua pihak yang bersebarangan secara politis itu saling klaim, saling tuding, dan saling menyalahkan. Sehingga, situasi kehidupan berbangsa menjadi keruh dan penuh gejolak.

Pada saat tensi permusuhan akibat polarisasi kian meninggi, kelompok teroris akan sangat mudah mengoyak persatuan bangsa kita. Suriah menjadi contoh batapa polarisasi yang tajam antara pendukung rezim Assad dan oposisi berujung pada konflik yang tak berkesudahan. Negara berada di titik nadir kegagalan. Situasi semacam itu dimanfaatkan oleh ISIS untuk menunjukkan kekuatannya. Mereka lalu menciptakan prahara dengan aksi-aksi destruktif. Akibatnya rasa kemanusiaan menjadi pemandangan langka dalam realitas kehidupan masyarakat Suriah. Ia tergantikan oleh egoisme sektoral dan sikap fanatisme.

Selain itu, kenyataan bahwa pendukung oposisi banyak berasal dari kelompok Islam militan rupanya menjadi modal penting bagi teroris untuk menyusup di dalamnya. Modus operandi mereka adalah menyebarkan benih-benih radikalisme dan fanatisme. Malakukan indoktrinasi agar sikap rasional tergantikan oleh sikap emosional. Kelompok-kelompok teroris akan lebih mudah menyusup pada individu yang dilanda rasa kecewa, baik pada negara atau terhadap kondisi sosial.

Dengan begitu, hal paling fundamental adalah upaya preventif dengan melakukan penyadaran pada masyarakat. Deradikalisasi harus terus digalakkan bagi masyarakat, utamanya di Solo. Masyarakat harus diberi pemahaman tentang betapa pentingnya menjaga perdamaian dan merawat tali persaudaraan. Ini adalah langkah untuk membendung upaya radikalisasi kelompok-kelompok teroris yang memang hendak menjadikan Solo sebagai hotspot radius mereka. Jangan sampai, kota dengan julukan The Spirit of Java itu nelangsa karena kedamaian masyarakatnya direnggut oleh kelompok asusila.(*)

* Penulis adalah Ketua Himpunan Aktivis Milenial Indonesia; Alumnus Fakultas Hukum Universitas Bung Karno Jakarta.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com