Indahnya Persahabatan

Home / Kopi TIMES / Indahnya Persahabatan
Indahnya Persahabatan Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

TIMESSIDOARJO, YOGYAKARTA – Manusia secara fitrah adalah makhluk sosial, antara satu dan lainnya saling membutuhkan dan saling membantu. Kini wacana persahabatan bisa mudah kita wujudkan, tetapi di sisi lain terasa sulit  untuk diwujudkan. Tergantung situasi dan kondisi. Persahabatan, kadang kala bisa menjadi sesuatu yang mahal, karena untuk mewujudkan dan menjaga persahabatan dibutuhkan suatu perjuangan yang tidak ringan.

Bagaimana persahabatan itu bisa terwujud? Alex Lickerman M.D. (2010) menjelaskan bahwa ada sejumlah variabel yang bisa membuat suatu persahabatan itu terwujud, (1) adanya minat yang sama, (2) memiliki sejarah yang dilewati dengan kemudahan dan kesulitan bersama, (3) adanya nilai-nilai yang sama,dan (4) adanya kesamaan beberapa aspek dalam hidupnya antara yang satu dan lainnya serta saling melengkapi. Rasulullah saw bersabda bahwa “Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” (HR Imam Muslim). Begitulah persahabatan bisa terjadi di antara insan pada umumnya, juga ukhuwwah di antara sesama muslim.

Persahabatan yang kita bangun dengan sungguh-sungguh diharapkan bisa terjaga selama mungkin. Namun prakteknya persahabatan itu bisa pudar baik dalam waktu singkat maupun dalam waktu lama. Shainna Ali Ph.D., LMHC (2018) telah mengidentifikasi ada sejumlah faktor yang membuat persahabatan berakhir. Pertama, tiadanya care dan sharing antar sahabat. Jika salah satu sahabat itu tidak mau peduli terhadap pasangan temannya, dalam waktu yang sama tidak ada empati dan sharing antar sahabat, berangsur-angsur persahabatan bisa berakhir.

Kedua, waktu dan energi, berkurangnya investasi waktu dan energi dapat mempengaruhi keutuhan persahabatan. Jika tidak tersedia waktu cukup untuk aktivitas dan ekstra energi, maka kualitas persahabatan cenderung menurun. Ketiga, afiliasi dan gaya hidup, bahwa perbedaan kesukaan, misalnya berkaitan boks tempat makan, tas buku, pilihan restoran dan sebagainya, cenderung mengganggu persahabatan.

Keempat, jarak dan hubungan. Idealnya jarak antar sahabat yang jauh untuk berhubungan dapat digantikan dengan tilpun, WA, videocall dsb. Namun faktanya bahwa komunikasi intens jarak jauh tidak selalu bisa terjadi, sehingga dengan jarak jauh hubungan persahabatan menjadi menurun dari waktu ke waktu. Kelima, ekspektasi, bahwa terjadinya ekspektasi yang mismatch antara sahabat berdampak terhadap kualitas persahabatan. Harapan untuk caring dan sharing yang tidak sama berdampak pada kualitas persahabatan.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian kita dalam bersahabat dapat dipetik dari sejumlah makhfudzat atau kata-kata bijak dan hadits. Pertama-tama  dinyatakan bahwa “Man katsura ihsaanuhu katsura ikhwaanuhu”, yang artinya “Barang siapa banyak perbuatan baiknya, banyak pulalah temannya”, karena itu untuk mendapatkan teman yang banyak, maka perbanyak berbuat kebaikan dengan tulus dan ikhlas.

Selanjutnya, “Man thalaba akhan bila ‘aibin baqiya balas akhin”, yang artinya “Barang siapa mencari teman yang tidak bercela, maka ia akan tetap tidak mempunyai teman”. Pada hakekatnya tidak ada manusia sempurna, karena itu tidaklah seharusnya mencari teman yang sempurna, yang tidak ada aibnya.

Demikian juga dikatakan “Shadiiquka man abkaaka, laa man adzhakaka”, yang artinya “Temanmu ialah orang yang menangiskanmu (membuatmu menangis) bukan orang yang membuatmu tertawa”. Teman yang sebenarnya adalah seseorang yang mau mengatakan apa adanya, walaupun pahit rasanya, sehingga membuat kita menangis. Bukan orang yang menutupi sesuatu, sehingga tidak mau mengatakan apa yang sebenarnya, sehingga kita menyesal pada akhirnya.

Selain daripada itu dikatakan juga bahwa “Khairul Ashhaabi man yadulluka ‘alal khaiir”, yang artinya “Sebaik-baik teman itu ialah yang menunjukkan kamu kepada kebaikan”. Teman yang terbaik adalah teman yang suka dan senang menyampaikan berita yang menyelamatkan kita, bukan yang mencelakakan kita.

Terakhir dapat dipetik dari sabda Rasulullah saw, yaitu, "Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri. (HR Bukhari dan Muslim). Di sini bersahabat memiliki nilai yang tinggi, karena dikaitkan dengan iman. Bahwa untuk menjaga iman kita, maka kita harus mencinta sahabat, seperti kita mencintai diri kita sendiri. Bukan mencintai sahabat sekedarnya.

Demikian berbagai hal tentang persahabatan yang menjadi bagian dari kehidupan kita, semoga kita bisa menjaga persahabatan dengan sebaik-baiknya, yang akhirnya bisa menjadikan kehidupan kita yang damai dan harmoni. Karea persahabatan seharusnya menjadi kebutuhan kita, sehingga kita bisa rasakan indahnya persahabatan. (*)

*) Penulis adalah Prof Dr Rochmat Wahab, Rektor Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Periode 2009-2017, anggota Mustasyar PW Nahdlatul Ulama (NU) DIY, Pengurus ICMI Pusat.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com